Rabu, 22 Oktober 2014

Bahasa Indonesia II

D. Pembentukan Lebih Lanjut
                Pembentukan lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Proses pembentukan itu ada tiga macam, yaitu pengimbuhan, pengulangan dan pemajemukan.
                Pembentukan lebih lanjut sebenarnya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng-an dan ke-an dengan unsur serapan sebagai kata dasarnya. Penambahan awalan meng-, peng- dan peng-an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu perlu diperlakukan sama atau berbeda, jugaa perlu diingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali gugus konsonan.
·         Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/, /t/, /k/ dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut akan luluh.
ü  Contoh:        - Tari menjadi penari dan menari
  Penari itu menari dengan gemulai
- Panah menjadi pemanah dan memanah
  Indonesia mengirim dua atlet pemanah dalam ajang Asian Games
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/, jika mendapat awalan meng-, peng- atau peng-an maka akan melebur.
ü  Contoh:        - Potret menjadi memotret dan pemotretan
  Cantika sedang memotret keindahan pantai
- Putar menjadi memutar dan pemutaran
  Vino menyaksikan pemutaran film perdananya
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara /t/
ü  Contoh:        - Target menjadi penargetan dan menargetkan
  Liliana Natsir menargetkan medali emas untuk Indonesia
- Tackle menjadi pen-tackle-an dan men-tackle
  Daniel Agger men-tackle penyerang Real Madrid
·         Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan sistem fonologi bahasa indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/ mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/.
ü  Contoh:        - Pikir menjadi memikirkan dan pemikiran
  Walaupun masih kecil Taqia mempunyai pemikiran yang dewasa
- Fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnah
  Tania memfitnah temannya yang telah mencuri uang
·         Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Konsep menjadi pengonsepan dan mengonsep
  Dinda sedang mengonsep rumah yang akan dia bangun
- Kontak menjadi mengontak dan pengontakan
  Fani kesulitan untuk mengontak keluarganya yang berada di kampung
·         Kata-kata serapan diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Setop menjadi penyetopan dan menyetop
 Polisi menyetop pengendara motor yang melanggar rambu lalu lintas
- Salin menjadi penyalinan dan menyalin
  Dani dihukum karena tertangkap sedang menyalin jawaban temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an /p/-nya menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Protes menjadi memprotes
  Mahasiswa berdemo memprotes kebijakan pemerintah yang baru
- Produksi menjadi pemroduksian
  Cika sedang melihat proses pemroduksian susu
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /kr/ dan /st/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Kredit menjadi mengkredit dan pengredit
  Pak Dudung mengkredit motor untuk usahanya
- Kritik menjadi mengkritik dan pengritik
  Tika selalu mengkritik penampilan temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/ jika mendapat awalan meng-, peng dan peng-an tidak pernah luluh.
ü  Contoh:        - Mentraktir dan pentraktir
 Dalam rangka hari ulang tahun, Raka mentraktir teman sekelasnya
- Mensponsori dan pensponsor
 Aqua sebagai pensponsor acara pertandingan sepak bola itu
·         Kata serapann tentu saja dapat mengalami proses pengulangan. Kata serapan yang tidak mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipura atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh.
ü  Contoh:        - Mempraktis-praktiskan
  Cinta mempraktis-praktiskan cara untuk memasak
- Mengkritik-kritik

  Dia tak berhenti mengkritik-kritik lawannya

Bahasa Indonesia

D. Pembentukan Lebih Lanjut
                Pembentukan lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Proses pembentukan itu ada tiga macam, yaitu pengimbuhan, pengulangan dan pemajemukan.
                Pembentukan lebih lanjut sebenarnya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng-an dan ke-an dengan unsur serapan sebagai kata dasarnya. Penambahan awalan meng-, peng- dan peng-an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu perlu diperlakukan sama atau berbeda, jugaa perlu diingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali gugus konsonan.
·         Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/, /t/, /k/ dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut akan luluh.
ü  Contoh:        - Tari menjadi penari dan menari
  Penari itu menari dengan gemulai
- Panah menjadi pemanah dan memanah
  Indonesia mengirim dua atlet pemanah dalam ajang Asian Games
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/, jika mendapat awalan meng-, peng- atau peng-an maka akan melebur.
ü  Contoh:        - Potret menjadi memotret dan pemotretan
  Cantika sedang memotret keindahan pantai
- Putar menjadi memutar dan pemutaran
  Vino menyaksikan pemutaran film perdananya
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara /t/
ü  Contoh:        - Target menjadi penargetan dan menargetkan
  Liliana Natsir menargetkan medali emas untuk Indonesia
- Tackle menjadi pen-tackle-an dan men-tackle
  Daniel Agger men-tackle penyerang Real Madrid
·         Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan sistem fonologi bahasa indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/ mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/.
ü  Contoh:        - Pikir menjadi memikirkan dan pemikiran
  Walaupun masih kecil Taqia mempunyai pemikiran yang dewasa
- Fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnah
  Tania memfitnah temannya yang telah mencuri uang
·         Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Konsep menjadi pengonsepan dan mengonsep
  Dinda sedang mengonsep rumah yang akan dia bangun
- Kontak menjadi mengontak dan pengontakan
  Fani kesulitan untuk mengontak keluarganya yang berada di kampung
·         Kata-kata serapan diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Setop menjadi penyetopan dan menyetop
 Polisi menyetop pengendara motor yang melanggar rambu lalu lintas
- Salin menjadi penyalinan dan menyalin
  Dani dihukum karena tertangkap sedang menyalin jawaban temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an /p/-nya menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Protes menjadi memprotes
  Mahasiswa berdemo memprotes kebijakan pemerintah yang baru
- Produksi menjadi pemroduksian
  Cika sedang melihat proses pemroduksian susu
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /kr/ dan /st/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Kredit menjadi mengkredit dan pengredit
  Pak Dudung mengkredit motor untuk usahanya
- Kritik menjadi mengkritik dan pengritik
  Tika selalu mengkritik penampilan temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/ jika mendapat awalan meng-, peng dan peng-an tidak pernah luluh.
ü  Contoh:        - Mentraktir dan pentraktir
 Dalam rangka hari ulang tahun, Raka mentraktir teman sekelasnya
- Mensponsori dan pensponsor
 Aqua sebagai pensponsor acara pertandingan sepak bola itu
·         Kata serapann tentu saja dapat mengalami proses pengulangan. Kata serapan yang tidak mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipura atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh.
ü  Contoh:        - Mempraktis-praktiskan
  Cinta mempraktis-praktiskan cara untuk memasak
- Mengkritik-kritik

  Dia tak berhenti mengkritik-kritik lawannya

Bahasa Indonesia

D. Pembentukan Lebih Lanjut
                Pembentukan lebih lanjut adalah pembentukan kata turunan melalui proses morfologi bahasa indonesia dengan kata-kata serapan sebagai bentuk dasarnya. Proses pembentukan itu ada tiga macam, yaitu pengimbuhan, pengulangan dan pemajemukan.
                Pembentukan lebih lanjut sebenarnya sudah dimulai ketika dibicarakan konfiks peng-an dan ke-an dengan unsur serapan sebagai kata dasarnya. Penambahan awalan meng-, peng- dan peng-an perlu diamati apakah kata dasar yang berupa kata serapan itu perlu diperlakukan sama atau berbeda, jugaa perlu diingat bahwa unsur-unsur serapan itu ada yang diawali gugus konsonan.
·         Kata-kata yang diawali oleh konsonan hambatan tak bersuara /p/, /t/, /k/ dan geseran apiko-alveolar /s/ jika mendapat awalan meng- atau peng- fonem tersebut akan luluh.
ü  Contoh:        - Tari menjadi penari dan menari
  Penari itu menari dengan gemulai
- Panah menjadi pemanah dan memanah
  Indonesia mengirim dua atlet pemanah dalam ajang Asian Games
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan bilabial tak bersuara /p/, jika mendapat awalan meng-, peng- atau peng-an maka akan melebur.
ü  Contoh:        - Potret menjadi memotret dan pemotretan
  Cantika sedang memotret keindahan pantai
- Putar menjadi memutar dan pemutaran
  Vino menyaksikan pemutaran film perdananya
·         Kata-kata serapan yang diawali dengan konsonan hambatan apiko dental tak bersuara /t/
ü  Contoh:        - Target menjadi penargetan dan menargetkan
  Liliana Natsir menargetkan medali emas untuk Indonesia
- Tackle menjadi pen-tackle-an dan men-tackle
  Daniel Agger men-tackle penyerang Real Madrid
·         Konsonan geseran labio-dental tak bersuara /f/ dulu disesuaikan dengan sistem fonologi bahasa indonesia menjadi /p/. Yang sudah disesuaikan menjadi /p/ mengalami penghilangan atau luluh, sedang apabila tetap /f/ mendapat sengauan yang homorgan, yaitu /m/.
ü  Contoh:        - Pikir menjadi memikirkan dan pemikiran
  Walaupun masih kecil Taqia mempunyai pemikiran yang dewasa
- Fitnah menjadi memfitnah dan pemfitnah
  Tania memfitnah temannya yang telah mencuri uang
·         Konsonan hambatan dorso-velar tak bersuara /k/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Konsep menjadi pengonsepan dan mengonsep
  Dinda sedang mengonsep rumah yang akan dia bangun
- Kontak menjadi mengontak dan pengontakan
  Fani kesulitan untuk mengontak keluarganya yang berada di kampung
·         Kata-kata serapan diawali dengan fonem geseran apiko-dental tak bersuara /s/ yang mendapat awalan  meng- atau peng-an akan luluh.
ü  Contoh:        - Setop menjadi penyetopan dan menyetop
 Polisi menyetop pengendara motor yang melanggar rambu lalu lintas
- Salin menjadi penyalinan dan menyalin
  Dani dihukum karena tertangkap sedang menyalin jawaban temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /pr/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an /p/-nya menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Protes menjadi memprotes
  Mahasiswa berdemo memprotes kebijakan pemerintah yang baru
- Produksi menjadi pemroduksian
  Cika sedang melihat proses pemroduksian susu
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /kr/ dan /st/ jika mendapat awalan meng- tidak luluh. Tetapi bila mendapat awalan peng-an menjadi luluh.
ü  Contoh:        - Kredit menjadi mengkredit dan pengredit
  Pak Dudung mengkredit motor untuk usahanya
- Kritik menjadi mengkritik dan pengritik
  Tika selalu mengkritik penampilan temannya
·         Kata dasar serapan yang diawali oleh gugus konsonan /tr/, /st/, /sk/, /sp/, /pl/, /kl/ jika mendapat awalan meng-, peng dan peng-an tidak pernah luluh.
ü  Contoh:        - Mentraktir dan pentraktir
 Dalam rangka hari ulang tahun, Raka mentraktir teman sekelasnya
- Mensponsori dan pensponsor
 Aqua sebagai pensponsor acara pertandingan sepak bola itu
·         Kata serapann tentu saja dapat mengalami proses pengulangan. Kata serapan yang tidak mengalami perulangan sebagian yang berupa dwipura atau dwiwasana. Pada pengulangan dengan awalan konsonan awal pada suku ulangannya juga tidak luluh.
ü  Contoh:        - Mempraktis-praktiskan
  Cinta mempraktis-praktiskan cara untuk memasak
- Mengkritik-kritik

  Dia tak berhenti mengkritik-kritik lawannya

Rabu, 15 Oktober 2014

Bahasa Indonesia

Ucapan  dan Ejaan
a.    Ucapan
Bahasa Indonesia bagi sebagian penuturnya adalah bahasa kedua. Para penutur terpengaruh oleh bahasa daerah yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengaruh dalam ucapan itu sulit dihindarkan dan menjadi ciri yang membedakan ucapan penutur bahasa indonesia dari daerah satu dengan daerah yang lain.
b.    Ejaan
Dalam tulis-menulis tidak hanya dituntut untuk dapat menyusun kalimat
dengan baik, memilih kata yang tepat melainkan juga mengeja kata-kata dan kalimat tersebut sesuai dengan ejaan yang berlaku.
a.    Penulisan Huruf Kapital
Huruf kapital digunakan untuk mengawali kalimat yang baru, huruf awal pada nama diri dan ucapan langsung.
·         Huruf  kapital dipakai sebagai huruf pertama yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci.
Contoh :  - Semoga Dia mengampuni hamba-Nya
- Hanya Engkaulah tempat kami mengadu.
·         Huruf kapital dipakai sebagai nama diri, gelar kehormatan, keturunan, atau kagamaan ditulis dengan huruf kapital. Terpisah dari nama diri, dalam pengertian umum, huruf-huruf tersebut ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:    - Nabi Muhammad
                   - Sri Sultan Hamengkubuwono X
                        - Dia baru saja diangkat menjadi gubernur
                        - Tahun ini Maman pergi naik haji.
·         Nama jabatan juga ditulis diawal dengan huruf kapital
Contoh:   -  Gubernur DKI Jakarta
-  Rektor Universitas Gunadarma
·         Kata-kata yang menunjukkan hubungan kekerabatan huruf awalnya ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:    - Pagi hari Ibuku pergi kepasar
- Ayah sedang mencuci mobil
·         Kata-kata yang digunakan dalam pengertian khusus harus ditulis dengan huruf kapital, sedangkan kata-kata dengan pengertian umum ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:   -  Presiden Republik Indonesia akan melawat ke
luar negri.
-  Suatu negara dipimpin seorang presiden.
                  -  Suatu provinsi dikepalai oleh seorang gubernur
- Dia diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi      Universitas Gunadarma
·         Nama diri yang kemudian menjadi nama jenis, tidak perlu ditulis dengan huruf kapital.
Contoh:   - Adik gemar sekali pisang ambon
- Berapa harga seikat rambutan aceh?
·         Nama diri yang biasanya diawali huruf kapital itu juga ditulis dengan huruf kecil apabila diapit dengan awalan atau akhiran.
Contoh:   - Logatnya keinggris-inggrisan.
               -Jangan mencampuradukkan masalah-masalah  ketuhanan  

b.    Huruf Tebal dan huruf Miring
·         Judul buku atau  nama majalah, harus ditulis dengan huruf tebal.
Contoh :   - Tata Bahasa Baku Indonesia.
 - Pengajaran Bahasa dan Sastra.
·         Judul naskah yang belum diterbitkan sebagai buku seperti naskah skripsi, tesis, atau disertai cukup ditulis dalam tanda petik (“.....”)
Contoh:   - “Ejaan Sesuai EYD“.
                        - “Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia”.
·         Judul-judul tersebut kalau dicetak  ditulis dengan huruf miring.
Contoh:    -“Ejaan Sesuai EYD“.
                     -“Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia”.
·         Huruf miring juga dipergunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan kata.
Contoh:   - Dia bukan mencuri tetapi dicuri (“me-“ dan “di-“ ditulis miring)
·         Huruf miring juga digunakan untuk menuliskan nama ilmiah atau ungkapan asing.
Contoh:      - Nama ilmiah buah manggis ialah carcinia mongostana

c.    Penulisan Partikel dan Awalan
Dalam penulisan kata harus memperhatikan kata tersebut. Ada kata atau awalan yang harus ditulis serangkai
·         Awalan adi-, contoh : adidaya, adikuasa, adimarga, adibusana.
·         Awalan awa- ini digunakan untuk mengindonesiakan awalan de- pada kata-kata pinjaman dari bahasa Inggris dan belanda,  contoh: deodorant, dehidrasi.
·         Awalan mala-,  contoh: malapraktik, malagizi.
·         Kata antara ditulis terpisah, tetapi antar- ditulis serangkai. Contoh: antarkota, antarpulau
·         Kata maha apabila dirangkai dengan kata dasar ditulis serangkai. Contoh: mahasiswa, Mahakuasa.
·         Bentuk-bentuk lain yang dirangkai ialah awalan pra-, pasca-, pramu-, purna-, tuna-. Contoh: prasejarah, pascasarjana, pramuwisata, purnawirawan, swalayan, tunawisma.
·         Kata-kata seperti anti-, non-, sub-, poli-. ultra-,  supra-, juga ditulis serangkai.
Contoh  antikomunis, nongelar, subunit, politeknik, ultraviolet, supranatural.
·         Gabungan dua kata yang diapit oleh awalan dan akhiran juga ditulis serangkai. Contoh: pertanggungjawaban, ketidakhadiran, dan  menandatangani.
·         Kata-kata yang harus ditulis serangkai ialah: padahal, daripada, barangkali, sekaligus, apabila, bilamana, jikalau, andaikata, manakala.

d.     Penulisan Bilangan
Bilangan ada yang harus ditulis dengan angka, ada yang harus ditulis dengan huruf. Bilangan yang menunjukan tahun, jam, tanggal, nomor rumah, nomor bab, subbab, atau bagian-bagian dari subbab harus ditulis dengan angka. Contoh: “sepuluh juta juta rupiah” dapat juga ditulis dengan huruf, kecuali di dalam tabel atau grafik..
Bilangan tingkat dapat dinyatakan dengan huruf, dengan angka, dan dengan huruf dan angka. Contoh:  ketiga dapat ditulis ketiga atau ke-3 atau III, abad kedua puluh, abad ke-20 abad XX.

e.    Tanda Baca
Ada bermacam-macam tanda baca/pungtuasi, seperti titik (.), koma (,), titik koma (;), titik dua (: ), dan petik (“..”)

a) Tanda titik (.)
Tanda titik dipakai untuk menandai berakhirnya kalimat. Di samping itu tanda titik juga digunakan sesudah nomor bab atau subbab atau bagian dari subbab.
o   Contoh:     -  Ani belajar menyanyi.
- Dudung bermain bola.
Singkatannya yang terdiri dari huruf-huruf kapital tidak menggunakan titik.
o   Contoh:     - SMP, SMA, ABRI
Singkatan dengan huruf kapital yang merupakan menggunakan titik di belakang tanda koma tersebut.
o   Contoh:     - Dr. Diah Ayu, Izzati Amperaningrum ST. MM
Singkatan yang  menggunakan huruf kecil menggunakan titik.
o   Contoh:     - atas nama                     a.n.
                                    - untuk beliau                  u.b.
                 
b). Tanda koma(,)
Koma digunakan untuk menandai adanya jeda atau kesenyapan antara dalam suatu kalimat.
Tanda koma sering digunakan setelah seruan, juga sesudah kata-kata seperti meskipun begitu, jadi, namun demikian.
o   Contoh:     - Ah, kakiku menginjak paku.
- Meskipun hujan, ia pergi juga ke kantor,
Tanda koma digunakan juga untuk memisahkan dua kalimat yang setara yang dihubungkan dengan kata  tetapi, atau, melainkan.
o   Contoh:     - Orang itu pandai, tetapi tidak sombong.
                                    - Yang menikah bukan dia, melainkan adiknya
Tanda koma juga digunakan untuk membatasi unsur-unsur dalam suatu perincian.
o   Contoh:     - Jurusan-jurusan dalam Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma ialah Jurusan Teknik Informatika, dan Jurusan Teknik Mesin.

c).  Titik Koma(;)
Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan bagian kalimat yang sejenis dan setara.
o   Contoh:   - Semua mahasiswa diperlakukan sama; tidak ada murid yang dianakemaskan.
Tanda titik koma juga digunakan untuk membatasi bagian-bagian kalimat yang sudah mengandung koma.
o   Contoh:     - Di pasar Cinta membeli baju, sepatu, dan kaos kaki; Ali membeli ikat pinggang, topi, dasi dan kaca mata;
Tanda titik koma digunakan juga untuk memisahkan kalimat-kalimat dalam suatu perincian.
o   Contoh:     - Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan teirma kasih  yang     sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak DR. Aries Budi Setyawan dan Ibu Masodah SE. MM sebagai pembimbing 1 dan pembimbing 2, yang dengan penuh kesabaran telah memberikan petunjuk dan nasihat-nasihatnya;
2. Ibu Izzati Amperaningrum SE. MM , dosen wali penulis yang telah banyak memberikan bimbingan selama penulis belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma;

d). Titik Dua (:)
Tanda titik dua dipakai akhir suatu pernyataan yang lengkap dan diikuti oleh rangkaian atau perincian.
o   Contoh:     - Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma mempunyai dua jurusan: Jurusan Akuntansi dan Jurusan Manajemen.
Titik dua juga digunakan pada kata-kata misalnya, contohnya dan sebagai berikut yang diikuti perinciaan.
o   Contoh:     - Alat-alat yang harus dibawa adalah sebagai berikut: Buku, alat tulis dan alat solat
Tanda titik dua juga digunakan untuk pemerian yang berbentuk formula, misalnya pemerian suatu organisasi sebagai berikut:
         Ketua                :   Cantika            
         Sekretaris         :   Manisa                        
         Bendahara       :   Imuta                    
e) Tanda Petik (“...“ )
Tanda petik dalam tulisan atau ketikan biasanya dicetak dengan huruf miring. Dalam karangan tercetak tanda petik juga digunakan untuk menandai kata-kata yang tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya.
o   Contoh : Itu dia “pahlawan” kita datang.

f) Tanda Hubung (-)
Tanda hubung digunakan untuk menghubungkan kata-kata yang diulang.
o   Contoh: meja-meja , berjalan-jalan, buah-buahan.
Tanda hubung digunakan apabila huruf-huruf dirangkaikan dengan bilangan, huruf kecil, atau huruf kecil yang dirangkaikan dengan huruf kapital.
o   Contoh:     - Abad ke-21
                        - Ijazah SMA-nya hilang.
Tanda hubung juga digunakan untuk membatasi tanggal, bulan, dan tahun apabila semuanya ditulis dengan angka.
o   Contoh: Jakarta, 14-05-1995
Tanda hubung juga digunakan untuk menghubungkan awalan atau akhiran dalam bahasa Indonesia yang dirangkaikan dengan kata dasar asing.
o   Contoh:  - Tim ganda putri Indonesia di-smash lawannya
-Steven Gerrard melakukan pen-tackle-an sempurna

f.     Tanda-tanda Baca yang Lain
Tanda–tanda baca yang lain ialah tanda pisah (-), tanda elipsis (…), tanda tanya (?), tanda seru  (!), tanda kurung  ( ), tanda kurung siku ([ ]), tanda garis miring  (/)  dan tanda penyingkat/apostrof  (‘)
Tanda–tanda baca yang lain ialah :

·         Tanda pisah (-)
Digunakan untuk memisahkan kata-kata.
o   Contoh : Anyer - Jakarta.

·         Tanda elipsis (…)
Digunakan untuk menandai tuturan yang terputus-putus.
o   Contoh: Kalau engkau tidak mau ….yah…, biarlah saya pergi saja.
Digunakan dalam suatu kutipan menunjukan bahwa ada kata-kata yang tidak dikutip dalam kutipan tersebut.
o   Contoh: “Morfem ialah ….bentuk bebas yang terkecil”.
·         Tanda Tanya (?)
o   Digunakan untuk kalimat tanya dan diletakan di akhir kalimat. Contoh:  Bagaimana kabarmu?
Tanda tanya yang ditaruh di antara tanda kurung digunakan untuk menyatakan keragu-raguan atau kesangsian.
o   Contoh:     Bangunan itu dibangun tahun 1995 (?)

·         Tanda seru  (!)
Tanda seru digunakan untuk menandai seruan/perintah/panggilan.
o   Contoh:     Andi cepat kesini!

·         Tanda kurung  ( )
Tanda kurung juga digunakan untuk mengapit penjelasan atau keterangan.
o   Contoh:     Bagian perencanaan sudah selesai merencanakan DIK (Daftar Isi   Kerja) kantor ini.
Tanda kurung juga untuk  mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan merupakan bagian yang pokok dari pembicaraan.
o   Contoh:     Keterangan ini )lihat tabel 10) menunjukan arus perkembangan baru dalam pemasaran dalam negeri.
Tanda kurung juga dipergunakan untuk mengapit angka atau huruf yang memerinci keterangan.
o   Contoh:  Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam , (b) tenaga kerja dan (c) modal.

·         Tanda kurung siku ([ ])
Tanda kurung siku digunakan sebagai  tanda koreksi bahwa dalam naskah itu terdapat huruf , kata, atau kelompok kata yang ditulis di antara tanda kurung siku tersebut.
o   Contoh:  Si Bintang Men[d]engar bunyi gemerisik.
Tanda kurung siku di gunakan juga untuk memberi tanda kurung di dalam bagian kalimat yang sudah menggunakan tanda kurung.
o   Contoh:  Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab 11 [lihat halaman 25 –38] tidak dibicarakan ).

·         Tanda garis miring (/)
Tanda garis miring digunakan dalam penomoran surat.
o   Contoh:  NO :7/TP09/k/91
Untuk menunjukkan tahun anggaran atau tahun kuliah.
o   Contoh:  Tahun ajaran 2014/2015
Garis miring berarti juga tiap-tiap atau per.
o   Contoh: Harga ayam naik jadi Rp 50.000/ekor


·         Tanda penyingkat/apostrof  (‘)
Digunakan untuk menunjukan adanya bagian–bagian yang dilesapkan.
o   Contoh :    -  Rumah yang megah ‘kan ku dirikan (kan=akan)
-   Mei’95 (‘95=1995)