Hubungan Kepribadian dengan Kebudayaan Negara Arab Saudi
Saya akan membahas hubungan kepribadian dengan kebudayaan negara Arab Saudi. Arab Saudi adalah salah satu negera di Timur Tengah dalam bentuk kerajaan, Undang-Undang Dasar negara adalah Alqur’an dan Sunnah Rasulullah, sedang hukum dasar negara adalah Syari’ah. Sistem hukumnya adalah sistem hukum Islam, yaitu bersumber dari wahyu (Alqur’an dan Sunnah Rasul), dan Ijtihad.
Budaya merupakan salah satu unsur dasar
dalam kehidupan sosial. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola
berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti membentuk
kepribadian dan pola pikir masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau
aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat.
Budaya
negara Arab Saudi :
1.
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa yang dituturkan oleh lebih dari 200
juta jiwa dan digunakan secara resmi di lebih dari 22 negara. Secara umum bahasa
Arab memiliki dua jenis, pertama bahasa Arab Fusha (bahasa Arab standar/baku)
dan kedua bahasa Arab `Amiyyah (bahasa Arab pasaran). Jenis yang pertama
umumnya digunakan dalam komunikasi resmi seperti dalam sekolah, kantor,
seminar, dilpomatik, berita, buku-buku, majalah, dokumen-dokumen resmi dan
sebagainya. Sedangkan jenis kedua, sering digunakan untuk keperluan komunikasi
atau percakapan sehari-hari oleh warga kebanyakan dari segala kalangan baik
yang terpelajar maupun yang buta huruf.
2.
Komunikasi bisa berbentuk verbal maupun non-verbal. Komunikasi non-verbal
berkisar antara 60 persen (dalam budaya Barat) hingga 90 persen (dalam budaya
Timur) dari keseluruhan komunikasi. Komunikasi verbal digunakan untuk
menyampaikan gagasan, informasi atau pengetahuan, sedangkan komunikasi
non-verbal digunakan untuk mengungkapkan perasaan.
3.
Meskipun warga Arab Saudi umumnya beragama Islam (mungkin 100%), ini tidak
berarti bahwa cara dan etika mereka dalam berkomunikasi selalu santun seperti
diajarkan Al-quran dan Sunnah. Sebagian dari cara mereka berkomunikasi bersifat
kultural semata-mata. Hal ini harus dipahami oleh orang-orang yang akan berziarah/berkunjung
ke Arab Saudi baik untuk menunaikan ibadah umrah dan haji, apalagi untuk
bekerja disana untuk mengatasi kesalahpahaman dan konflik yang mungkin akan
mereka/kita alami ketika berhubungan dengan orang Arab, karena bagaimanapun
mereka akan lebih banyak berkomunikasi dengan warga pribumi.
4.
Gaya komunikasi orang Arab, seperti gaya komunikasi orang-orang Timur Tengah
umumnya, bebeda dengan pembicara orang-orang Barat (Amerika atau Jerman) yang
berbicara langsung dan lugas. Dengan kata lain, orang Arab masih tidak
berbicara apa adanya, masih kurang jelas dan kurang langsung. Umumnya orang
Arab suka berbicara berlebihan dan banyak basi-basi. Misalnya, bila seorang
Saudi bertemu temannya, maka untuk sekedar tanya kabar, tak cukup sekali dengan
satu ungkapan, tapi berkali-kali.
5.
Sejak kanak-kanak orang Arab dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan mereka
apa adanya, misalnya dengan menangis atau berteriak. Orang Arab terbiasa
bersuara keras untuk mengekspresikan kekuatan dan ketulusan, apalagi kepada
orang yang mereka sukai. Bagi orang Arab, suara lemah dianggap sebagai
kelemahan atau tipu daya. Tetapi suara keras mereka boleh jadi ditafsirkan
sebagai kemarahan oleh orang yang tidak terbiasa mendengar suara keras mereka.
Maka pasti akan banyak yang mengira, kalau bicaranya seperti marah. Saya
menduga banyak TKI/TKW di Arab Saudi yang belum memiliki pemahaman memadai
tentang bahasa Arab boleh jadi mengidentikkan suara majikan mereka yang keras
itu dengan kemarahan, meskipun majikan itu sesungguhnya tidak sedang marah.
Sebaliknya, senyuman wanita kita (termasuk TKW) kepada orang Arab/majikan pria
mereka yang mereka maksudkan sebagai keramahtamahan atau kesopanan, boleh jadi
dianggap sebuah `godaan` oleh majikan pria mereka. Kesalahpahaman antarbudaya
semacam ini, bisa tidak terhindarkan meskipun majikan dan TKW sama-sama Muslim.
7.
Budaya/tradisi Arab mementingkan keramahtamahan terhadap tamu, kemurahan hati,
keberanian, kehormatan, dan harga-diri. Nilai kehormatan orang Arab terutama melekat
pada anggota keluarganya, khususnya wanita, yang tidak boleh diganggu orang
luar. Di Saudi, adalah hal yang lazim jika seorang pria tidak pernah mengenal
atau bahkan sekadar melihat wajah istri atau anak perempuan dari sahabatnya,
meskipun mereka telah lama bersahabat dan sering saling mengunjungi. Juga tidak
lazim bagi seorang pria untuk memberi bingkisan kepada istri sahabat prianya
itu atau anak perempuannya yang sudah dewasa.
8.
Aturan/rambu-rambu lalu lintas yang berlaku di Arab Saudi berbeda 180ยบ dengan
aturan yang berlaku di negara kita. Di Indonesia, setiap pengguna jalan umum
baik kendaraan pribadi maupun kendaraan/angkutan umum semua wajib berada di
jalur kiri jalan (dan letak roda kemudi mobil berada di bagian kanan). Demikian
pula waktu menaikkan atau menurunkan penumpang semua berada di jalur kiri.
Karena itu penumpang di Indonesia jika ingin turun dari kendaraan umum,
biasanya mereka bilang `Kiri Pak Sopir !`. Hal ini berbeda sama sekali dengan
apa yang berlaku di Arab Saudi, semua pengguna jalan termasuk waktu menaikkan
maupun menurunkan penumpang berada di jalur sebelah kanan jalan. Demikian pula
waktu menaikkan maupun menurunkan penumpang, mereka wajib menepi ke sebelah
kanan jalan.
9. Bagi orang Saudi, rumah betul-betul menjadi bagian
pribadi yang tak semua orang bisa mengakses ke dalam dengan mudahnya,
sebagaimana kebiasaan kita di Indonesia. Desain rumah yang umumnya `hanya`
berbentuk segi empat bertingkat seolah-olah menggambarkan bangunan sebuah
benteng yang sulit ditembus. Faktanya memang benar, setiap rumah selalu ditutup
dengan pagar tembok tinggi, dengan pintu gerbang bisa berlapis-lapis. Apa yang
ada di balik tembok adalah sebuah privasi yang tidak boleh dilihat oleh publik.
10.
Ternyata bergandengan tangan dengan sesama jenis di Saudi itu termasuk `aib`
menurut mereka, karena bisa dianggap sebagai pasangan homo, tetapi jika yang
bergandengan tangan itu berlainan jenis ternyata biasa-biasa saja, sebab
`diduga` itu pasangan suami istri.
11.
Busana orang Saudi hampir semua sama. Mereka semua memakai pakaian putih yang
biasa disebut `tsaub` dengan sorban motif kotak-kotak kecil berwarna
putih-merah plus diikat dengan `igal` di kepala. Penampilan orang Saudi yang
demikian wibawa seringkali membuat orang-orang Indonesia yang baru melihat atau
mengenalnya menjadi ciut nyali, minder, kurang percaya diri bahkan tak jarang
yang menjadi takut, sehingga menimbulkan adanya semacam jarak pemisah yang
membatasi dalam pergaulan.
Sumber
:
http://yanluamohdar2010.blogspot.com/2012/03/sistem-hukum-arab-saudi.html
http://mihrabqolbi.com/artikel/detail/21/mengenal-sekilas-budayatradisi-masyarakat-arab.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar